Sabtu, 15 Oktober 2011

Al- Qur'an dan Peradaban Islam

(No.09 Tahun 5, Oktober 2009)

Anugerah Ilahi yang terbesar kepada manusia adalah bahwa Allah telah mengajarkan Al Qur’an. Peristiwa turunnya  Al Qur`an (Nuzulul Qur`an), merupakan salah satu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah dan perkembangan peradaban Islam.

AL- QUR’AN DAN PERADABAN MASA LALU

Oleh  : Drs. Ali Mahfudz, MA

Anugerah Ilahi yang terbesar kepada manusia adalah bahwa Allah telah mengajarkan Al Qur’an. Sungguh, pernyataan bahwa Allah Maha Pengasih, dibuktikan oleh ayat bahwa Ia telah mengajarkan Al Qur’an  (QS. Al Rahman [55] : 1-2). Al Qur’an sendiri menggambarkan dirinya sebagai petunjuk bagi orang- orang yang bertaqwa (QS. Al Baqarah (2) : 2 ), petunjuk ke jalan yang lurus dan kabar gembira bagi orang- orang yang beriman (QS. Al Isra’ [17] : 9 ) serta pelajaran dan penyembuh bagi penyakit- penyakit yang berada dalam dada (QS. Yunus [10] : 57). Dan masih banyak ayat- yat yang serupa dalam Al Qur’an.

Dengan demikian, meskipun Al Qur’an diterima oleh Nabi Muhammad s.a.w. Dan momentum turunnya hanya dirasakan oleh beliau dan para sahabatnya yang arif dan bijaksana, namun momentum tutur dan ajarannya dapat dirasakan pula oleh generasi sesudahnya termasuk zaman kini. Bahkan ia juga dapat merasuk ke dalam jiwa para pencari kebenaran di dunia manapun mereka berada, termasuk ke dalam jiwa pencari kebenaran yang tidak meyakini kitab ini sebagai wahyu Allah.[1]

Mempelajari pernyataan Al Qur’an tentang dirinya, terlihat bahwa dalam kaitannya dengan peradaban masa lalu yang menjadi topik dalam pembicaraan tulisan ini, ada dua hal yang perlu digaris bawahi. Pertama, dengan menyebut dirinya sebagai penyembuh, mengisyaratkan bahwa ada kondisi sebelumnya, berupa penyakit social dalam arti yang seluas-luasnya yang perlu diobati. Kedua, dengan menyebut dirinya sebagai petunjuk dan pelajaran, mengisyaratkan bahwa terdapat kekeliruan jalan yang ditempuh manusia terdahulu sebagai pelajaran agar kita yang hidup di zaman sekarang tidak ikut tersesat sebagaimana mereka, dengan jalan mentaati dan menghindari segala peraturan yang telah digariskan oleh Al Qur’an.

Al Qur’an mengungkap sekian banyak ragam hal yang terkait dengan peradaban masa lampau, baik yang diketahui oleh manusia, maupun yang sama sekali tidak diketahuinya. Peradaban masa lampau yang telah diungkap oleh Al Qur’an adalah kaum Tsamud dan kaum  ‘Ad, yang terhadap mereka diutus Nabi Shaleh dan Nabi Hud. Banyak uraian Al Qur’an tentang kedua kaum ini, baik dari segi kemampuan dan kekuatan mereka, maupun kedurhakaan dan pembangkangan mereka terhadap Tuhan dan utusan-Nya. Yang akhirny keduanya dihancurkan Allah dengan gempa dan angin topan yang sangat dingin.

Peristiwa tersebut diungkapkan Al Qur’an :

“Kaum Tsamud dan 'Aad telah mendustakan hari kiamat. Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. Adapun kaum 'Aad Maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi Amat kencang, Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; Maka kamu Lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. AlHaqqah [69] : 4-7)

Dalam surat yang lain Al Qur’an mengungkapkan bahwa kaum ‘Ad memiliki kemampuan luar biasa sehingga mereka telah membangun kota Iram dengan tiang- tiang yang tinggi dan yang belum pernah dibangun dinegeri lain sehebat dan seindah itu sebelumnya.

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Aad? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai Bangunan-bangunan yang tinggi, Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.” (QS. Al Fajr [89] : 6-9)

Dari informasi  Al Qur’an ini bukan berarti tidak ada yang meragukannya, tetapi setelah ditemukan bukti- bukti  yang kemudian ditemukan oleh para ilmuan di bidang arkeologi, yang dalam penelitiannya berhasil mengungkap bukti-bukti tentang terjadinya gempa dan angin ribut, sebagaimana yang diuraikan Al Qur’an. Masa itu diperkirakan masa hidupnya kaum- kaum yang pernah dihancurkan Tuhan, serta di tempat yang diisyaratkan oleh kitab- kitab suci, seperti lembah Yordania, pantai laut merah, serta Arab Selatan.[2]

Selanjutnya pada tahun 1834 telah berhasil ditemukannya di dalam tanah di lokasi di Hisn AlGhurab dekat kota Aden di Yaman sebuah naskah bertuliskan  aksara lama (Hymarite) yang menunjukkan nama Nabi Hud. Dalam naskah itu antara lain tertulis, “Kami memerintah dengan menggunakan hukum Hud”. Selanjutnya pada tahun 1964- 1969 dilakukan penggalian arkeologis, dan dari hasil analisis pada 1980 ditemukan informasi dari salah satu lempeng tentang adanya kota yang disebut “Shamutu, ‘Ad dan Iram”. Prof. Pettinato mengedentifikasikan nama- nama tersebut dengan nama- nama yang disebut pada surah Al Fajr di atas.

Dalam konteks ini penting juga untuk diketahui pendapat Father Dahood yang mengatakan bahwa “antara Ebla (2500 SM) dan Al Qur’an  (625 M) tidak ada refrensi lain mengenai kota- kota tersebut”. Bukti arkeologis lain tentang kota Iram adalah hasil ekspedisi Nicholas Clapp di Gurun Arabia Selatan pada tahun 1992. Kota Iram sebagaimana yang diungkapkan oleh M. Quraish Shihab berdasarkan riwayat- riwayat dibangun oleh Shaddad bin Ud, sebuat kota yang sangat indah yang sebelumnya bernama Ubhur. Namun Tuhan akhirnya menghancurkan kota itu karena kedurhakaan penduduknya.

Nicholas menemukan bukti dari seorang penjelajah tentang adanya jalan kuno ke Iram (Ubhur). Kemudian atas bantuan dua orang ahli lainnya yaitu Juris Zarin dari Universitas Negara Bagian Missouri Barat Daya, dan penjelajah Inggris, Sir Ranulph Fiennes, mereka berusaha mencari kota yang hilang itu bersama- sama dengan seorang ahli hukum George Hedges.

Dengan bantuan peralatan yang canggih berupa pesawat ulang alik Challenger dengan system Satelite Imaging Radar (SIR) untuk mendeteksi bagian bawah gurun Arabia,yang diduga sebagai tempat tenggelamnya kota yang terkena longsor itu. Dengan bantuan satelit dari Perancis dengan system penginderaan optic, mereka berhasil menemukan citra digital berupa garis putih pucat yang menandai beratus- ratus kilo meter rute kafilah yang ditinggalkan, sebagian di bawah tumpukan pasir yang telah tertimbun selama berabad- abad hingga mencapai ketinggian 183 meter.

Berdasarkan data ini Nicholas Clapp dan rekan- rekannya yang meneliti tanah tersebut dan melakukan pencarian pada ahir tahun 1991, dan pada bulan pebruari 1992, mereka berhasil menemukan  sebuah bangunan segi delapan dengan dinding- dinding dan menara- menara yang tinggi, mencapai sekitar 9 meter, hal tersebut menyerupai dengan apa yang diberitakan Al Qur’a, bahwa “penduduk Iram yang mempunyai bangunan- bangunan yang tinggi (QS. Al Fajr [89] : 7)

Berdasarkan bukti- bukti yang telah berhasil ditemukan oleh para ahli tersebut di atas, semakin nyatalah, bahwa Al Qur’an adalah benar- benar kitab suci yang diturunkan oleh Allah s.w.t sebagai petunjuk bagi ummat manusia. Dan seluruh ayat yang terkandung di dalamnya merupakan bukti kebenaran yang tak terbantahkan lagi. Hal ini dipertegas dalam Al Qur’an :

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fushshilat [41] : 53 ).

Satu lagi peristiwa masa lalu yang direkam oleh Al Qur’an untuk melengkapi tulisan ini adalah peristiwa Ashabul Kahfi. Keraguan masyarakat Arab Makkah tentang kenabian Muhammad SAW dan kebenaran Al Qur’an terus berlanjut. Mereka mengirim tiga orang untuk menemui tokoh agama Yahudi Najran guna untuk meminta tanggapan mereka tentang kenabian Muhammad. Para tokoh Yahudi tersebut mengusulkan agar kaum musyrik Makkah bertanya kepada Nabi tentang tiga hal. Jika dia dapat menjawabnya dengan benar, maka ia benar seorang Nabi. Lalu tanyakan pula suatu hal lain, dan jika dia menduga tahu, maka dia berbohong, demikian ucapan orang- orang Yahudi. Ketiga hal tersebut adalah :

Pertama, kisah sekelompok pemuda yang masuk berlindung dan tertidur sekian lama. Berapa jumlah mereka dan siapa atau apa yang bersama mereka?

Kedua, Kisah Nabi Musa, ketika diperintahkan Tuhan untuk belajar.

Ketiga, kisah seorang penjelajah ke Timur dan ke Barat.

Adapun yang keempat, yang ia berbohong jika ia mengaku mengetahuinya, yaitu tentang kapan hari kiamat akan terjadi.

Keempat pertanyaan mereka itu terjawab melalui wahyu Al Qur’an dalam surat Al Kahfi, yang tentu bukan di sini tempatnya untuk menguraikan bagaimana jawaban tentang pertanyaan- pertanyaan di atas, melainkan yang ingin penulis sampaikan adalah benarkah informasi atau jawaban Al Qur’an, bahwa terdapat tujuh orang pemuda bersama seekor anjing yang berlindung dari kekejaman penguasa masanya menuju gua? (QS. Al Kahfi [18] : 22) Benarkah mereka tertidur di gua selama 300 tahun menurut perhitungan syamsiyah atau 309 tahun menurut perhitungan qamariyah (QS. Al Kahfi [18] : 25). Benarkah ketika mereka terbangun dan diketahui oleh masyarakat, mereka disambut baik, karena ketika itu, penguasa tidak lagi menindas penganut agama Kristen (QS. Al Kahfi [18] : 21 ). Benarkah bahwa di atas lokasi gua mereka kemudian dibangun tempat peribadatan? (QS. Al Kahfi [18] : 21 ).

Al- Qur’an juga melukiskan gua tempat tinggal mereka sebagai berikut :

”Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang Luas dalam gua itu. itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”  (QS. Al Kahfi [18] : 17 ).

Tidak mudah membuktikan keberadaan gua dimaksud sebelum maraknya penelitian arkeologi. Namun sebagaimana yang diungkapkan M. Quraish Shihab yang mengutip tulisan Thabathaba’i dalam tafsirnya Al Mizan, mengungkapkan, “sumber- sumber Baratpun menyebutkan paling tidak ada empat kesimpulan tentang kisah Ashabul Kahfi  yang walaupun berbeda dalam rinciannya, namun sama dalam inti kisahnya”.

Di sisi lain telah ditemukan sekian banyak gua di Epsus, Damaskus, dan di Iskandinavia yang masing- masing penemunya mengklaim bahwa gua yang mereka temukan itu adalah gua Ashabul Kahfi, tetapi sayang ciri- ciri gua tidak sepenuhnya sama dengan apa yang dilukiskan Al Qur’an. Baru pada tahun 1963, Rafiq Wafa Ad- Dajani, seorang arkeolog Yordania, menemukan sebuah gua yang terletak sekitar delapan kilometer dari Amman, Ibu kota Yordania, yang memiliki ciri- ciri sebagaimana yang dilukiskan Al Qur’an.

Selanjutnya para sejarawan Muslim dan Kristen mengakui bahwa penguasa yang dzalim dan menindas pengikut nabi Isa AS, antara lain adalah yang memerintah pada tahun 98- 117 m dan pada sekitar tahun 112 M menetapkan bahwa setiap orang yang menolak menyembah dewa- dewa dijatuhi hukuman. Dan hukuman yang berlaku pada saat itu adalah dibunuh, dan hal tersebut disaksikan oleh beberapa pemuda yang kemudian melarikan diri dan mencari perlindungan ke dalam gua. Dan penguasa yang kejam itu diketahui bernama Diqyanus seorang raja Romawi pemuja berhala yang berkuasa atas kota Tarasus. Sedang Penguasa yang bijaksana adalah Theodusius yang memerintah selama tahun 408- 451.

Yang akhirnya pemuda yang melarikan diri dan berlindung dalam gua dan tertidur selama 300 tahun tersebut dibangunkan Allah s.w.t, yang mereka tidak menyadari, bahwa  mereka mengira hanya tidur sehari atau setengah hari saja. Namun ketika ia memerintahkan salah seorang di antara mereka untuk membeli makanan dengan uang yang mereka bawa mereka terkejut karena uang yang mereka bawa sudah tidak laku lagi. Yang kemudian mereka baru menyadari bahwa uang yang mereka miliki itu sudah berumur 300 tahun. Hingga akhirnya Allah s.w.t. mewafatkan Ashabul Kahfi itu dalam gua tempat berlindung mereka. Dan orang- orangpun berkata, ‘Kami akan membangun masjid di atas tempat mereka itu”.

Demikian sekelumit kisah yang diinformasikan Al Qur’an, semoga bermanfaat dan dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

Wallahu a’lam bis showaab.

[1]Baca : Syahrin Harahap, Islam Dinamis, (Yogyakarta : Tiara Wacana, 1997), h.15

[2] Baca : M. Quraish Shihab, Mu’jizat Al Qur’an ( Bandung : Mizan 1997 ) h. 197-198           


AL-QUR`AN SEBAGAI SUMBER  PERADABAN  ISLAM

Oleh: H. Rakhmad Zailani Kiki, S.Ag, MM

Peristiwa turunnya  Al Qur`an (Nuzulul Qur`an), merupakan salah satu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah dan perkembangan peradaban Islam. Di saat itulah sosok pemuda terpercaya yang bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib resmi diangkat oleh Allah  s.w.t. sebagai nabi dan rasul terakhir sampai akhir zaman. Karenanya, bisa dikatakan, Nuzulul Qur`an dan kenabian Muhammad memiliki hubungan kasualitas: Tanpa turunnya  Al Qur`an, Muhammad tidak akan pernah diangkat menjadi nabi. Ayat yang pertama kali diperdengarkan ke telinga Nabi Muhammad s.a.w. adalah iqra! Ayat ini mengandung perintah membaca, membaca berarti berfikir secara teratur atau sitematis dalam mempelajari firman dan ciptaannya, berfikir dengan menkorelasikan antara ayat qauliah dan kauniah manusia akan mampu menmukan konsep-konsep sains dan ilmu pengetahuan. Bahkan perintah yang pertama kali dititahkan oleh Allah kepada Nabi Muhammada s.a.w.. dan umat Islam sebelum perintah-perintah yang lain adalah mengembangkan sains dan ilmu pengetahuan serta bagaimana cara mendapatkannya. tentunya ilmu pengetahuan diperoleh di awali dengan cara membaca, karena membaca adalah kunci dari ilmu pengetahuan, baik membaca ayat qauliah maupun ayat kauniah, sebab manusia itu lahir tidak mengetahui apa-apa, pengetahuan manusia itu diperoleh melalui proses belajar dan melalui pengalaman yang dikumpulkan oleh akal serta indra pendengaran dan penglihatan[demi untuk mencapai kejayaan, kebahagian dunia dan akhirat. Dalam  Al Qur’an terdapat kurang lebih 750 ayat rujukan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan sementara tidak ada agama atau kebudayaan lain yang menegaskan dengan begitu tegas akan kepentingan ilmu dalam kehidupan manusia. Ini membuktikan bahwa betapa tingginya kedudukan sains dan ilmu pengetauan dalam  Al Qur’an (Islam).  Al Qur’an selalu memerintahkan kepada manusia untuk mendayagunakan potensi akal, pengamatan , pendengaran, semaksimal mungkin..

Al Qur’an kemudian menjadi kitab suci bagi umat Islam, rujukan utama bagi segala rujukan, sumber dari segala sumber, basis bagi segala sains dan ilmu pengetuhan, ySejauh mana keabsahan ilmu harus diukur standarnya adalah  Al Qur’an. Ia adalah buku induk ilmu pengethuan, di mana tidak ada satu perkara apapun yang terlewatkan, semuanya telah tercakup di dalamnya yang mengatur berbagai asfek kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan Allah (Hablum minallah); sesama manusia (Hablum minannas); alam, lingkungan, ilmu akidah, ilmu sosial, ilmu alam, ilmu emperis, ilmu agama, umum dan sebgaianya.(Q.S.  Al An’am [6]: 38). Lebih lanjut Achmad Baiquni mengatakan, “sebenarnya segala ilmu yang diperlukan manusia itu tersedia di dalam  Al Qur’an”. Dengan kata lain,  Al Qur`an merupakan sumber peradaban Islam.

Sejarah telah mencatat dan mengakui bahwa Islam merupakan satu-satunya agama di dunia yang  yang sangat (bahkan paling) empatik dalam mendorong umatnya untuk menuntut ilmu,  membangun peradabannya, dengan  Al Qur’an sebagai sumbernya. Betapa tidak,  Al Qur’an sendiri mengandung banyak konsep-konsep sains, ilmu pengetahuan dan teknelogi serta pujian terhadap orang-orang yang berilmu. Dalam Q.S.  Al Mujadalah [58]: 11 Allah berfirman, “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat”. Peradaban Islam bahkan pernah merajai peradaban-peradaban besar lainnya. Hal ini terbukti dengan banyaknya ilmuan-ilmuan Muslim tampil kepentas dunia ilmu pengetahuan, sains dan teknelogi, seperti  Al Farabi,  Al Kindi, Ibnu Sina, Ikhwanusshafa, Ibn Miskwaih, Nasiruddin  Al Thusi, Ibn rusyd, Imam  Al Ghazali,  Al Biruni, Fakhrudin ar-Razy, Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Hambali dan lain-lain. Ilmu yang mereka kembangkan pun bebagai maca disiplin ilmu, bahkan meliputi segala cabang ilmu yang berkembang pada masa itu, antara lain: ilmu Filsafat, Astrnomi, Fisika, Astronomi, Astrologi, Alkemi, Kedokteran, Optik, Farmasi, Tasauf, Fiqih, Tafsir, Ilmu Kalam dan sebagainya, pada masa itu kejayaan, kemakmuran, kekuasaan dan politik berda di bawah kendali umat Islam, karena mereka meguasai sains, ilmu pengetahuan  dan teknelogi dengan menjadikan  Al Qur`an sebagai pedoman dan sumber rujukannya.

Hal ini tentu sangat wajar, karena sains dan ilmu pengetahuan merupakan salah satu isi pokok kandungan kitab suci  Al Qur’an. Bahkan kata ‘ilm itu sendiri disebut dalam  Al Qur’an sebanyak 105 kali, tetapi dengan kata jadiannya ia disebut lebih dari 744 kali. Sains merupakan salah satu kebutuhan agama Islam, betapa tidak setiap kali umat Islam ingin melakasanakan ibadah selalu memerlukan penentuan waktu dan tempat yang tepat, umpamanya melaksanakan shalat, menentukan awal bulan Ramadhan, pelaksanaan haji semuanya punya waktu-waktu tertentu dan untuk mentukan waktu yang tepat diperlukan ilmu astronomi. Maka dalam Islam pada abad pertengahan dikenal istilah “ sains mengenai waktu-waktu tertentu. Banyak lagi ajaran agama yang pelaksanaannya sangat terkait erat dengan sains dan teknelogi, seperti untuk menunaikan ibadah haji, bedakwah menyebarkan agama Islam diperlukan kendraan sebagai alat transportasi. Allah telah meletakkan garis-garis besar sains dan ilmu pengetahuan dalam  Al Qur’an, manusia hanya tinggal menggali, mengembangkan konsep dan teori yang sudah ada, antara lain sebagaimana terdapat dalam Q.S Ar-Rahman [55] :33, ”Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”.

Ayat di atas pada masa empat belas abad yang silam telah memberikan isyarat secara ilmiyah kepada bangsa Jin dan Manusia, bahwasanya mereka telah di persilakan oleh Allah untuk mejelajah di angkasa luar asalkan saja mereka punya kemampuan dan kekuatan (sulthan); kekuatan yang dimaksud di sisni sebagaimana di tafsirkan para ulama adalah ilmu pengetahuan atau sains dan teknelogi, dan hal ini telah terbukti di era mederen sekarang ini, dengan di temukannya alat transportasi yang mampu menmbus angksa luar bangsa-bangsa yang telah mencapai kemajuan dalam bidang sains dan teknelogi telah berulang kali melakukan pendaratan di Bulan, pelanet Mars, Juipeter dan pelanet-pelanet lainnya.

Jika sekarang kita menyaksikan kemajuan peradaban Barat, maka sesungguhnya kemajuan peradaban yang telah diperoleh mereka dalam bidang ilmu pengetahuan, sains dan teknelogi di abad modren ini, merupakan kelanjutan dari tradisi ilmiah yang telah dikembangkan oleh ilmuan-ilmuan muslim pada abad pertengahan. Dengan kata lain ilmuan muslim banyak memberikan sumbangan kepada ilmua barat, hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Badri Yatim dalam bukunya Sejarah Perdaban Islam “kemajuan Barat pada mulanya bersumber dari peradaban Islam yang masuk ke Eropa melalui Spanyol.” Dan ini diakui oleh sebagian mereka. Sains dan teknelogi baik itu yang ditemukan oleh ilmuan muslim maupun oleh ilmuan barat pada masa dulu, sekarang dan yang akan datang, itu semua sebagai bukti kebenaran informasi yang terkandung di dalam  Al qur’an, karena jauh sebelum peristiwa penemuan-penemuan itu terjadi  Al Qur’an telah memberikan isyarat-isyarat tentang hal itu, dan ini termasuk bagian dari kemukjizatan  Al Qur’an, dimana kebenaran yang terkandung didalamnya selalu terbuka untuk dikaji, didiskusikan, diteliti, diuji dan dibuktikan secara ilmiyah oleh siapapun.

Wallahu A’lam Bishshawab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar